Terungkap, Sosok di Balik Ponpes Al Khoziny yang Jarang Disorot
Terungkap, Sosok di Balik Ponpes Al Khoziny yang Jarang Disorot

Terungkap, Sosok di Balik Ponpes Al Khoziny yang Jarang Disorot

SpekPintar – Tragedi runtuhnya musala di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur, bukan hanya meninggalkan duka mendalam, tapi juga segudang pertanyaan. Puluhan nyawa melayang, dan kini sorotan tertuju pada standar keamanan bangunan serta tanggung jawab pengelola. Di balik duka ini, ada satu nama yang terus disebut: KH Abdul Salam Mujib, pengasuh pesantren yang selama ini mungkin tak banyak dikenal publik. Mari kita telusuri lebih dalam sosoknya, sejarah pesantren, dan berbagai cerita yang mengiringi tragedi ini.

Tragedi yang Mengguncang Al Khoziny

– Runtuhnya Musala

Senin sore, 28 September, sekitar pukul 3 sore, musala Ponpes Al Khoziny ambruk. Saat itu, bangunan tiga lantai tersebut sedang dalam proses pengecoran. Diduga kuat, konstruksi tak mampu menahan beban hingga akhirnya roboh begitu saja. Ratusan santri menjadi korban. Seorang saksi mata yang memilih anonim menggambarkan kejadian itu begitu cepat. “Tiba-tiba saja runtuh, menimpa para santri.” Proses evakuasi berlangsung dramatis, melibatkan tim SAR gabungan, relawan, dan warga yang bahu-membahu.

Duka dan Data Korban

Data terakhir dari BNPB, Minggu (5 Oktober 2025) pagi, mencatat 34 santri meninggal dunia. Lebih dari seratus lainnya mengalami luka-luka. “Kami masih terus mendata dan mengidentifikasi,” ujar juru bicara BNPB. Identifikasi korban tak mudah karena kondisi jenazah yang sulit dikenali. Keluarga korban berdatangan, mencari kabar orang-orang terkasih mereka. Suasana pilu menyelimuti lokasi kejadian.

KH Abdul Salam Mujib: Antara Sorotan dan Pembelaan

Pasca-tragedi, KH Abdul Salam Mujib, pengasuh Ponpes Al Khoziny, mendadak menjadi pusat perhatian. Ia adalah penerus kepemimpinan pesantren dari keluarga besarnya. Sebelum musibah ini, ia dikenal dekat dengan santri dan aktif dalam kegiatan keagamaan. Namun, tragedi ini mengubah pandangan sebagian orang terhadapnya.

Pernyataan yang Menuai Perdebatan

Pernyataan KH Abdul Salam Mujib yang menyebut runtuhnya musala sebagai takdir, memicu pro dan kontra. “Saya kira ini memang takdir dari Allah. Jadi, semuanya harus bersabar. Mudah-mudahan diberi ganti oleh Allah yang lebih baik,” ujarnya kepada media. Sebagian orang menganggap ini sebagai upaya menghindar dari tanggung jawab. Kritik pedas bermunculan, terutama di media sosial. Banyak yang menilai pesantren seharusnya bertanggung jawab atas keselamatan santri dan memastikan keamanan bangunan.

Membela Sang Kiai

Namun, tak sedikit pula yang membela KH Abdul Salam Mujib. Mereka menggambarkan sang kiai sebagai sosok sederhana dan tulus dalam mengurus pesantren. “Beliau sangat peduli terhadap santri. Saya yakin beliau juga terpukul dengan kejadian ini,” ujar seorang alumni Ponpes Al Khoziny. Pendukungnya berargumen bahwa ini adalah musibah yang tak terhindarkan dan tak seharusnya menyalahkan siapapun. Dukungan juga datang dari tokoh agama dan masyarakat yang mengenal baik KH Abdul Salam Mujib.

Al Khoziny: Jejak Panjang Sebuah Pesantren

Pondok Pesantren Al Khoziny punya sejarah panjang dan reputasi sebagai salah satu pesantren berpengaruh di Sidoarjo. Didirikan pada tahun 1920-an, pesantren ini telah melahirkan banyak tokoh agama dan intelektual muslim.

KH Raden Khozin Khoiruddin: Sang Pendiri

Pendiri Ponpes Al Khoziny adalah KH Raden Khozin Khoiruddin, seorang ulama kharismatik yang dikenal luas di Jawa Timur. Ia mendirikan pesantren ini untuk menyebarkan ilmu agama dan mencetak generasi muda berakhlak mulia. “KH Raden Khozin Khoiruddin sangat dihormati dan dicintai. Beliau adalah teladan bagi kami,” kata seorang tokoh masyarakat setempat.

Estafet Kepemimpinan

Setelah KH Raden Khozin Khoiruddin wafat, kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya, Moh Abbas. Di bawah kepemimpinannya, Al Khoziny terus berkembang. Kemudian, Moh Abbas menyerahkan tongkat estafet kepada KH. Abdul Mujib, cucu KH Raden Khozin Khoiruddin. Dari KH Abdul Mujib inilah kepemimpinan beralih ke KH Abdul Salam Mujib, pengasuh saat ini.

Bantuan Datang, Reaksi Mengalir

Pasca-runtuhnya musala, sejumlah petinggi partai politik memberikan bantuan kepada Ponpes Al Khoziny. Bantuan ini berupa uang tunai, bahan bangunan, dan logistik. Namun, pemberian ini memicu reaksi beragam dari netizen.

Sebagian mengkritik bantuan tersebut sebagai upaya pencitraan politik. “Ini politisasi musibah. Tega-teganya memanfaatkan penderitaan orang lain untuk kepentingan politik,” tulis seorang netizen.

Namun, ada pula yang berpendapat bahwa bantuan ini patut diapresiasi, terlepas dari motifnya. “Apapun motifnya, yang penting bermanfaat bagi yang membutuhkan,” tulis netizen lainnya. Kontroversi ini menambah kompleksitas masalah yang dihadapi Al Khoziny.

Kita berharap investigasi penyebab runtuhnya musala segera tuntas. Langkah-langkah pencegahan perlu diambil agar kejadian serupa tak terulang. Peran serta masyarakat dan pemerintah sangat dibutuhkan untuk membantu pemulihan Al Khoziny, agar pesantren ini bisa kembali beroperasi seperti sediakala. ***

About dion

Hands-on langsung. Nggak cukup liat brosur, gue harus nyoba sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *