SpekPintar – Setahun sudah Starlink, layanan internet satelitnya Elon Musk, hadir di Indonesia. Dulu, janjinya manis: internet ngebut dan stabil, terutama buat pelosok yang susah sinyal. Tapi, laporan terbaru malah bikin kening berkerut. Kecepatan internet Starlink kok malah loyo? Apa yang sebenarnya terjadi setelah setahun beroperasi di Indonesia?
Kecepatan Internet Starlink Menurun? Kok Bisa?
OpenSignal Bilang Ada Penurunan Drastis
OpenSignal, lembaga riset yang independen, baru-baru ini merilis data yang cukup mengejutkan. Mereka menemukan bahwa kecepatan internet Starlink di Indonesia anjlok dalam setahun terakhir. Baik kecepatan download maupun upload sama-sama melorot. Tentu saja, ini bikin para pengguna khawatir, apalagi yang sehari-harinya bergantung sama Starlink.
Angka Bicara: Download dan Upload Sama-Sama Turun
Detailnya begini: dulu, kecepatan download rata-rata Starlink itu 42 Mbps di tahun 2024. Sekarang? Tinggal 15,8 Mbps di tahun 2025. Jatuhnya hampir dua pertiga! Kecepatan upload juga ikutan turun, dari 10,5 Mbps jadi 5,4 Mbps. Jelas ini berpengaruh banget buat pengalaman pengguna. Mau streaming video, atau video call, jadi nggak seenak dulu. “Dulu nonton film 4K lancar jaya, sekarang sering banget buffering,” kata Andi, salah satu pengguna Starlink di Kalimantan Timur, dengan nada kecewa.
Kenapa Kecepatannya Bisa Loyo?
Permintaan Membludak, Jaringan Kewalahan?
Salah satu dugaan kuat penyebabnya adalah permintaan yang melonjak tinggi. Sejak awal diluncurkan, Starlink memang langsung populer di Indonesia, terutama di daerah yang susah dijangkau internet biasa. “Antusiasme masyarakat itu luar biasa, sampai melebihi ekspektasi kami,” ujar seorang sumber internal Starlink yang minta dirahasiakan namanya. Saking banyaknya yang mau langganan, jaringan satelit yang ada jadi kewalahan, dampaknya kecepatan internet untuk setiap pengguna jadi berkurang.
Sempat Tutup Pendaftaran, Lalu Buka Lagi dengan Harga Baru
Karena permintaan yang nggak terkendali, Starlink sempat berhenti menerima pendaftaran pelanggan baru. Tujuannya sih buat menstabilkan jaringan dan mencegah penurunan kualitas layanan yang lebih parah. Tapi, keputusan ini malah bikin banyak orang kecewa. Akhirnya, pendaftaran dibuka lagi di bulan Juli 2025, tapi dengan beberapa perubahan penting.
Harga Langganan Naik, Dompet Jadi Tipis
Pembukaan pendaftaran Starlink dibarengi dengan kenaikan harga langganan yang lumayan signifikan. Harga perangkat keras dan biaya pemasangan sekarang sekitar Rp 8 juta sampai Rp 9,4 juta. Kenaikan harga ini langsung dikritik banyak pihak, karena dianggap memberatkan masyarakat, terutama yang ekonominya pas-pasan. “Harga segini mahal banget. Dulu kami berharap Starlink bisa jadi solusi internet murah, tapi ternyata nggak,” keluh seorang warga di Sulawesi Selatan. Banyak juga yang khawatir kenaikan harga ini bisa menghambat pertumbuhan pelanggan Starlink ke depannya.
Ada Sisi Positifnya Juga, Lho!
Koneksi Jadi Lebih Stabil
Meskipun kecepatan internetnya turun, ada satu hal positif yang perlu dicatat: koneksi Starlink sekarang lebih stabil. Data OpenSignal menunjukkan bahwa stabilitas koneksi Starlink meningkat dari 24,2% menjadi 30,09%. Artinya, meskipun nggak secepat dulu, koneksi yang didapat lebih jarang putus-putus. Ini tentu jadi nilai tambah buat pengguna yang lebih mengutamakan keandalan koneksi daripada kecepatan.
Kata OpenSignal Soal Stabilitas yang Meningkat
OpenSignal menjelaskan bahwa peningkatan konsistensi layanan Starlink ini menunjukkan latensi yang lebih rendah dan peningkatan infrastruktur jaringan. Meski kecepatan internetnya melambat karena banyak yang pakai, Starlink terus berusaha meningkatkan kualitas jaringan dengan melakukan optimalisasi dan menambah kapasitas. “Meskipun kecepatannya lebih lambat, peningkatan Starlink dari tahun ke tahun dalam metrik ini mencerminkan latensi yang lebih rendah dan peningkatan infrastruktur,” jelas Analis OpenSignal dalam laporannya. Ini menunjukkan komitmen Starlink untuk memberikan pengalaman pengguna yang lebih baik, meskipun tantangannya berat.
Ke depannya, Starlink perlu terus berinvestasi dalam infrastruktur jaringan dan mencari cara inovatif untuk mengatasi lonjakan permintaan. Pemerintah juga perlu ikut berperan dalam mengatur dan mengawasi operasional Starlink agar tetap memberikan layanan yang berkualitas dan terjangkau bagi seluruh masyarakat Indonesia. Persaingan di pasar internet satelit juga semakin ketat, jadi Starlink harus terus berbenah diri agar tetap jadi pilihan utama. ***
spekpintar.com Spek Jelas, Pilihan Cerdas