Rahasia di Balik Layar, Sony Hampir Gandeng Tencent Garap The Last of Us!
Rahasia di Balik Layar, Sony Hampir Gandeng Tencent Garap The Last of Us!

Rahasia di Balik Layar, Sony Hampir Gandeng Tencent Garap The Last of Us!

SpekPintar – Sony Diam-Diam Hampir Gandeng Tencent Bikin The Last of Us Versi Mobile!

Di balik layar perseteruan hukum antara Sony dan Tencent soal dugaan penjiplakan game Horizon, terkuak sebuah fakta menarik: ternyata Sony sempat kepikiran menggandeng raksasa teknologi asal China itu untuk menggarap game mobile The Last of Us! Bayangkan, game yang selama ini jadi andalan PlayStation, eksklusif di konsol dan PC, bisa saja hadir di smartphone kita. Informasi ini terungkap dari dokumen pengadilan yang diajukan Sony.

Ambisi Sony Lebarkan Sayap The Last of Us ke Mobile

Wacana The Last of Us merambah platform mobile tentu jadi kabar heboh buat para penggemar dan industri game. Dengan cerita yang dalam, karakter yang kuat, dan dunia yang bikin kita susah move on, The Last of Us sudah jadi salah satu franchise paling sukses dan diakui kritikus dalam sejarah video game. Serial adaptasi HBO yang lagi booming juga makin bikin game ini populer, ngebuka pintu buat penonton yang lebih luas buat nikmatin dunia The Last of Us.

Sony ngelihat potensi besar buat perluas jangkauan franchise ini, dan platform mobile nawarin cara yang menarik buat ngejangkau jutaan pemain baru. “Kami selalu nyari cara buat nyediain pengalaman bermain game yang luar biasa buat khalayak yang lebih luas,” celetuk seorang sumber internal Sony yang enggak mau disebut namanya.

Informasi ini muncul langsung dari dokumen pengadilan yang berisi kesaksian tertulis Olivier Courtemanche, kepala divisi mobile di PlayStation Studios. Dalam gugatan Sony terhadap Tencent terkait game Light of Motiram yang dituduh ngejiplak Horizon, Courtemanche nyeritain detail pertemuannya dengan Tencent dan Aurora Studios, salah satu studio di bawah naungan Tencent. Dokumen itu nunjukkin adanya pertemuan tingkat tinggi antara perwakilan Sony dan Tencent buat ngebahas potensi kemitraan, yang salah satunya adalah pengembangan game mobile The Last of Us.

Pertemuan dengan Tencent yang Bikin Garuk-Garuk Kepala

Courtemanche ngejelasin kalo timnya terbang ke Shenzhen, China, pada Juli 2024 buat ngebahas potensi kerja sama untuk salah satu intellectual property (IP) paling berharga milik Sony. “Saya pergi bareng tim saya ke Shenzhen, China, pada Juli 2024 buat ngebahas berbagai peluang kemitraan dengan Tencent dan studio game-nya, termasuk Aurora Studios. Soal Aurora Studios, kami dateng ke pertemuan itu dengan kesan bahwa mereka pengen ngelakuin kolaborasi potensial buat The Last of Us,” kata Courtemanche dalam dokumen tersebut. Pernyataan ini ngekonfirmasi adanya diskusi serius buat ngebawa dunia Joel dan Ellie ke genggaman para pemain mobile.

Tapi, pertemuan itu malah bikin bingung. Bukannya ngebahas The Last of Us, Courtemanche bilang kalo tim Aurora malah nampilin materi yang mirip banget sama konsep game Horizon yang sebelumnya udah ditolak mentah-mentah sama Sony. Kejadian ini tentu aja bikin tim Sony bertanya-tanya.

“Saya bingung sama slide itu karena kami udah nolak potensi kolaborasi dengan Horizon dan ngira kami dateng buat ngebahas The Last of Us, di antara berbagai peluang lain,” tulis Courtemanche. Kebingungan ini makin parah dengan fakta kalo Sony udah nolak proposal Aurora Studios buat ngembangin game mobile berdasarkan Horizon sebelum pertemuan itu.

Konflik Horizon Jadi Ganjalan

Insiden inilah yang kayaknya jadi pemicu renggangnya hubungan kedua perusahaan sampe akhirnya berujung ke pengadilan. Menurut sumber yang deket sama masalah ini, Sony ngerasa kalo Tencent dan Aurora Studios udah nyalahgunain informasi rahasia yang dikasih selama proses negosiasi. Gugatan yang diajuin Sony nuduh Tencent ngelakuin pelanggaran hak cipta dan persaingan enggak sehat, yang bisa berdampak serius pada hubungan bisnis kedua perusahaan.

Sementara itu, Naughty Dog, pengembang asli seri The Last of Us, udah batalin proyek game multiplayer The Last of Us buat balik fokus ke pengalaman pemain tunggal. Keputusan ini mungkin terkait sama ketidakpastian soal kolaborasi dengan Tencent, atau mungkin juga nyerminin strategi baru dari Naughty Dog buat fokus pada apa yang mereka kuasai: narasi yang kuat dan karakter yang mendalam.

Konflik hukum ini enggak cuma ngehambat rencana ekspansi The Last of Us ke ranah seluler, tapi juga ngeimbulkan pertanyaan soal praktik bisnis di industri game dan pentingnya ngelindungin hak kekayaan intelektual. Sengketa antara Sony dan Tencent jadi peringatan buat perusahaan game lain soal risiko berbagi informasi rahasia dengan potensi mitra.

Gimana Nasib The Last of Us di Platform Seluler?

Sekarang, masa depan The Last of Us di platform seluler jadi enggak jelas, kejebak dalam jaring kusut sengketa hak kekayaan intelektual. Walaupun begitu, terungkapnya diskusi ini nunjukkin ambisi Sony buat ngeksplorasi platform baru dan ngejangkau audiens yang lebih luas. Meskipun kolaborasi dengan Tencent sekarang keliatan mustahil akibat perseteruan hukum, Sony mungkin nyari mitra lain buat mewujudin impian ngebawa The Last of Us ke perangkat mobile.

Tapi, tantangan tetep ada. Ngembangin game mobile berkualitas tinggi yang bisa nangkap esensi The Last of Us bukanlah tugas yang gampang. Selain itu, Sony harus mempertimbangkan dampak dari rilis game mobile terhadap citra merek The Last of Us. Kalo game mobile itu enggak memenuhi standar kualitas yang tinggi, hal itu bisa ngerusak reputasi franchise tersebut.

Soal prospek kemitraan baru, beberapa analis berspekulasi kalo Sony bisa mempertimbangkan buat kerja sama dengan perusahaan game mobile lain yang punya rekam jejak yang terbukti sukses dalam ngembangin game adaptasi dari IP konsol atau PC. Tapi, sampe sekarang, belum ada informasi resmi soal rencana Sony buat The Last of Us di platform seluler. Para penggemar cuma bisa nunggu dan berharap kalo suatu hari nanti, mereka bisa mainin The Last of Us di smartphone mereka. ***

About clarissa

Editor merangkap penikmat UX. Tugas gue: bikin tulisan lo enak dibaca dan gak boring.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *