God of War, Kenapa Studio Game Raksasa Juga Harus Bikin Game 'Kecil'?
God of War, Kenapa Studio Game Raksasa Juga Harus Bikin Game 'Kecil'?

God of War, Kenapa Studio Game Raksasa Juga Harus Bikin Game ‘Kecil’?

SpekPintar – Industri game raksasa seperti Sony dan Activision, yang selama ini identik dengan game AAA berbiaya fantastis, kini menghadapi tekanan untuk melirik proyek-proyek yang lebih sederhana, namun kaya ide. Gelombang PHK dan penutupan studio dalam dua tahun terakhir jelas memicu pertanyaan: mengapa raksasa-raksasa ini perlu “turun kelas” dan menggarap game yang lebih kecil?

Kenapa Game ‘Kecil’ Jadi Penting Buat Studio Besar?

Terlalu Bergantung Game AAA Itu Bahaya?

Memang sih, mengandalkan game AAA (Triple-A) bisa mendatangkan untung besar kalau sukses. Game-game dengan anggaran selangit ini seringkali jadi mesin uang utama bagi studio-studio besar. Tapi, di balik kilau kesuksesan, ada risiko yang nggak kalah besarnya. Proses pembuatan yang rumit dan lama, plus anggaran yang terus membengkak, membuat studio jadi rentan banget kalau sampai gagal. Bayangkan, kalau sebuah game AAA nggak sesuai harapan pasar, dampaknya bisa ngeri: PHK besar-besaran atau bahkan studio terpaksa gulung tikar. “Industri game ini terlalu bertumpu pada proyek AAA yang berisiko tinggi dan modalnya gede banget,” kata Meghan Morgan Juinio, mantan produser God of War (2018) dan co-head Sony Santa Monica Studio.

Selera Gamer Berubah, Cari Pengalaman Baru!

Selain itu, selera gamer juga terus berkembang, lho. Gamer zaman sekarang, yang udah biasa nyobain berbagai genre dan platform, mulai cari pengalaman main yang lebih beragam dan inovatif. Mereka nggak lagi cuma terpaku sama game dengan grafis super keren dan durasi main yang panjang banget. Justru, mereka pengen game yang menawarkan gameplay yang segar, cerita yang menarik, dan mekanisme yang unik. Pengennya sih, pengalaman yang singkat tapi membekas. “Para gamer modern udah mulai bosan sama formula yang itu-itu aja: anggaran gede, waktu main lama banget, dan pengembangan yang ribet,” imbuh Juinio.

Game AA dan Indie: Potensi Tersembunyi di Bawah Sayap Raksasa

Nah, di sinilah game AA (Double-A) dan indie (independent) menawarkan potensi yang menarik banget. Game-game ini, dengan anggaran yang lebih kecil dan tim pengembang yang lebih ringkas, seringkali bisa menghasilkan ide-ide yang lebih inovatif dan eksperimental. Mereka nggak terlalu terikat sama ekspektasi pasar dan bebas bereksperimen dengan genre, mekanisme, dan gaya visual yang beda. Juinio melihat peluang besar buat game AA dan indie untuk bersinar, bahkan di dalam ekosistem penerbit raksasa. “Saya juga mikir, ada peluang buat pemain besar buat coba diversifikasi ke Double-A dan Single-A, bahkan mungkin juga indie, kan?” ujarnya.

Contoh Sukses Game Skala Lebih Kecil

Astro Bot dan Split Fiction: Bukti Nyata Inovasi!

Beberapa game berskala kecil udah membuktikan, inovasi dan gameplay yang menarik bisa ngalahin grafis yang wah dan anggaran yang besar. Astro Bot dan Split Fiction adalah contoh nyata game yang berhasil merebut hati pemain, bukan karena megahnya, tapi karena gameplay yang memikat, inovatif, dan yang paling penting, seru! Astro Bot, dengan gameplay platformer yang unik dan penggunaan fitur virtual reality (VR) yang cerdas, berhasil dapat pujian dari kritikus dan laris di pasaran. Sementara itu, Split Fiction, dengan cerita yang menarik dan mekanisme time-loop yang inovatif, berhasil menarik perhatian gamer yang pengen pengalaman yang beda.

Intinya Sebuah Game: Bukan Cuma Soal Grafis!

Pada akhirnya, yang paling penting dari sebuah game itu bukan grafis atau anggaran produksinya. Game yang seru dan bikin ketagihan akan selalu menarik perhatian gamer, nggak peduli sesederhana apapun grafisnya. Sebaliknya, game dengan grafis yang memukau tapi gameplay-nya membosankan, ya bakal gagal merebut hati pemain. “Kalau sebuah game itu seru, grafis nggak penting. Kalau sebuah game nggak menarik atau nggak atraktif, ya nggak bakal menarik buat para pemain,” tegas Juinio.

Dengan mempertimbangkan risiko game AAA dan perubahan selera gamer, diversifikasi ke game AA dan indie jadi langkah yang cerdas buat studio-studio raksasa. Dengan memberi kesempatan bagi pengembang untuk berkreasi dan berinovasi, industri game bisa terus berkembang dan menawarkan pengalaman main yang lebih beragam dan menarik buat gamer di seluruh dunia. Industri game yang sekarang makin kompetitif, butuh ide-ide segar dan pendekatan baru biar tetap relevan. Melirik game skala kecil bukan berarti mengabaikan game AAA, tapi lebih ke menciptakan ekosistem yang lebih seimbang dan berkelanjutan. Masa depan industri game mungkin ada di kombinasi antara game AAA blockbuster dan game AA/indie yang inovatif dan eksperimental. ***

About tasya

Senangnya nulis konten abadi yang dicari orang dari dulu sampe besok. Artikel gue gak kadaluarsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *