Youth Economic Summit 2025, Teknologi Ubah Lanskap Media, Apa yang Perlu Kamu Tahu?
Youth Economic Summit 2025, Teknologi Ubah Lanskap Media, Apa yang Perlu Kamu Tahu?

Youth Economic Summit 2025, Teknologi Ubah Lanskap Media, Apa yang Perlu Kamu Tahu?

SpekPintar – Youth Economic Summit (YES) 2025 menyoroti satu hal yang lagi ramai dibicarakan: bagaimana sih perkembangan teknologi itu mengubah cara kita, terutama anak muda, mengakses informasi dan berinteraksi dengan dunia? Perubahan ini nggak cuma soal bagaimana kita mengonsumsi media, tapi juga berdampak ke ekonomi dan sosial secara keseluruhan.

Lanskap Media Berubah Drastis di Era Digital

Dulu, nyari informasi itu susah banget. Sekarang? Bejibun! Perkembangan teknologi udah benar-benar mengubah cara kita mendapatkan berita. Media sosial, website berita, aplikasi pesan instan jadi sumber utama informasi, bikin koran dan TV agak terpinggirkan. Enak sih, jadi gampang dapat info. Tapi, ini juga bikin kita harus lebih pintar memilah mana yang beneran kredibel dan akurat.

“Dulu, informasi itu dikit banget dan dikontrol. Sekarang, kita kebanjiran informasi. PR-nya adalah gimana caranya kita bisa bedain mana fakta, mana yang hoax,” kata Dandhy Laksono, Co-Founder Watchdog, waktu ngobrol di YES 2025.

Nggak cuma soal jumlah informasi yang meningkat, tapi juga soal format dan cara penyampaian berita. Anak muda sekarang lebih suka konten visual kayak video pendek atau infografis. Lebih gampang dicerna dan menarik, sih!

Generasi Z dan Milenial: Penggerak Transformasi Media

Generasi Z dan milenial punya peran penting banget dalam perubahan lanskap media digital ini. Mereka kan generasi digital, dari kecil udah kenal teknologi dan media sosial. Jadi, mereka ngerti banget gimana cara kerja platform ini. Mereka nggak cuma jadi penonton, tapi juga bikin konten sendiri dan nyebarin informasi lewat berbagai platform.

“Generasi Z itu lahir dan besar di era internet. Mereka gampang banget adaptasi sama perubahan dan jago bikin konten yang menarik dan relevan,” ujar Suwarjono, Pemimpin Redaksi sebuah portal berita nasional, saat jadi pembicara di YES 2025.

Kreativitas mereka ini yang bikin inovasi dalam format berita dan cara penyampaian informasi. Mereka pakai media sosial buat nyebarin berita, ngomongin isu-isu sosial, dan bangun komunitas online. Keren kan?

Susahnya Memfilter Informasi di Tengah Banjir Konten

Nah, karena informasinya banyak banget, jadi susah buat kita nyaring mana yang bener. Banyak sumber informasi, tapi nggak semuanya akurat dan terverifikasi. Makanya, kita butuh kemampuan literasi media yang kuat. Artinya, kita harus bisa menilai sumber informasi, tahu kalau ada bias, dan verifikasi fakta.

“Di tengah tsunami konten ini, penting banget buat kita mengembangkan kemampuan literasi media. Kita harus belajar gimana mengevaluasi sumber informasi, mengidentifikasi bias, dan memverifikasi fakta,” tegas Dandhy Laksono.

Lebih ribet lagi, algoritma media sosial sering kali cuma nunjukkin konten yang sesuai sama apa yang kita suka. Jadi, kita kayak ada di dalam “echo chamber” atau ruang gema. Kita cuma dengerin informasi yang sesuai sama pandangan kita, yang malah bikin bias dan polarisasi makin kuat.

Youth Economic Summit 2025: Ngobrolin Ekonomi Generasi Baru

Youth Economic Summit (YES) 2025, yang diadakan oleh CORE Indonesia bareng sebuah portal berita nasional, punya tema “The New Economy Generation: Sustain, Scale, Succeed.” Acaranya buat ngobrolin tantangan dan kesempatan yang dihadapi anak muda dalam perubahan ekonomi dan sosial. Salah satu fokusnya adalah gimana perkembangan teknologi dan perubahan media memengaruhi ekonomi generasi baru.

“YES 2025 itu tempatnya anak muda bertukar ide, berbagi pengalaman, dan bangun jaringan. Kami harap acara ini bisa kasih inspirasi dan wawasan buat mereka biar sukses di era ekonomi baru,” kata perwakilan dari CORE Indonesia.

YES 2025 ngundang banyak ahli dari berbagai bidang, kayak ekonomi, teknologi, dan media. Mereka berbagi cerita tentang tren terbaru, tantangan, dan kesempatan yang ada buat anak muda.

Dandhy Laksono: Transformasi Informasi dari Orde Baru Sampai Era Digital

Dandhy Laksono cerita soal transformasi informasi dari zaman Orde Baru sampai era digital. Dulu, di zaman Orde Baru, informasi itu susah banget didapat dan dikontrol pemerintah. Orang-orang harus kreatif buat nyari dan nyebarin informasi alternatif. Sekarang, informasinya banyak banget, tapi PR-nya adalah gimana caranya kita bisa milih informasi yang beneran bisa dipercaya.

“Dulu, kami harus berjuang buat dapetin informasi. Sekarang, informasi dateng ke kita dari segala arah. Tantangannya adalah bagaimana kita bisa membedakan fakta dari fiksi,” kata Dandhy Laksono.

Suwarjono (Pemred Suara.com): Adaptasi Media dan Kreativitas Gen Z

Suwarjono, Pemimpin Redaksi sebuah portal berita nasional, bilang penting banget buat media buat adaptasi sama perubahan digital dan ngandelin kreativitas generasi Z buat bikin konten yang menarik dan relevan. Katanya, media harus cepat menyesuaikan diri sama perubahan platform digital dan apa yang disukai konsumen.

“Media harus jadi lebih visual, lebih interaktif, dan lebih relevan sama kebutuhan anak muda,” kata Suwarjono. “Kreativitas generasi Z itu aset yang sangat berharga bagi media. Mereka punya kemampuan buat bikin konten yang menarik, informatif, dan gampang dicerna.”

Intinya…

Perkembangan teknologi udah mengubah lanskap media, bikin banyak kesempatan dan tantangan baru buat anak muda. Karena informasi banyak banget, kita harus pintar-pintar saring informasi. Kreativitas generasi Z juga penting banget buat inovasi dalam format berita dan cara penyampaian informasi. Youth Economic Summit 2025 jadi wadah penting buat ngobrolin isu-isu ini dan kasih semangat buat anak muda biar sukses di era ekonomi baru. Ke depannya, media yang bisa adaptasi sama perubahan dan manfaatin kreativitas generasi Z bakal jadi media yang relevan dan sukses. ***

About dion

Hands-on langsung. Nggak cukup liat brosur, gue harus nyoba sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *