Gibran Jadi 'Pangeran' Dadakan? Ritual Ini Bikin Netizen Heboh
Gibran Jadi 'Pangeran' Dadakan? Ritual Ini Bikin Netizen Heboh

Gibran Jadi ‘Pangeran’ Dadakan? Ritual Ini Bikin Netizen Heboh

SpekPintar – Video singkat Gibran Rakabuming Raka lagi ditandu dan kakinya dibasuh dalam sebuah upacara adat di Ternate, Maluku Utara, lagi rame banget nih dibicarain orang di media sosial. Potongan-potongan video yang diunggah beberapa akun ini langsung memicu berbagai macam komentar dari netizen. Usut punya usut, prosesi ini ternyata bagian dari pemberian gelar adatKaicil Kastela” atau “Pangeran Kastela” dari Kesultanan Ternate buat Gibran.

Gibran Jadi “Pangeran” Dadakan di Ternate, Kok Bisa?

Heboh Prosesi Adat yang Jadi Viral

Di video yang beredar luas itu, kelihatan Gibran pakai baju adat lengkap, diarak sama beberapa orang sambil ditandu. Ada juga video yang nunjukkin seorang perempuan berlutut dan membasuh kakinya. Adegan ini langsung bikin heboh dan jadi perdebatan seru. Ada yang bilang ini bentuk penghormatan adat yang biasa, tapi ada juga yang ngerasa ini agak berlebihan dan kurang pas buat seorang pejabat publik.

“Ini bagian dari tradisi kami buat menghormati tamu agung yang berjasa buat masyarakat Ternate,” kata seorang tokoh adat yang minta namanya dirahasiakan, Kamis (17/10/2024). Dia juga bilang prosesi ini udah lama jadi bagian dari budaya Kesultanan Ternate, bukan hal yang baru.

Netizen Terbelah: Ada yang Suka, Ada yang Nyinyir

Reaksi netizen terhadap video ini bener-bener campur aduk. Di TikTok, kebanyakan komentarnya positif, pada muji Gibran karena mau menghormati adat dan budaya setempat. Tapi, di X (dulu Twitter), banyak yang malah kasih kritik pedas. Mereka anggap prosesi itu kayak jaman feodal dan gak relevan sama semangat kesetaraan yang seharusnya dipegang teguh sama seorang pemimpin.

“Menurut gue sih, prosesi kayak gini gak perlu deh. Kita harusnya lebih fokus sama pembangunan yang beneran, bukan cuma seremonial adat yang lebay,” tulis seorang netizen dengan akun @politik_anakmuda. Beda lagi sama akun @budayaindonesia yang komentar, “Ini tuh bagian dari kekayaan budaya kita yang harus dilestarikan. Kita gak bisa nge-judge sebuah tradisi cuma karena gak sesuai sama pandangan kita.” Perbedaan pendapat ini nunjukkin betapa beragamnya pandangan orang soal tradisi dan modernitas.

Apa Sih Gelar “Kaicil Kastela” Itu?

Makna Gelar dan Kenapa Gibran yang Dapat

Ternyata, gelar “Kaicil Kastela” atau “Pangeran Kastela” ini bukan gelar main-main. Kata pihak Kesultanan Ternate, gelar ini dikasih ke tokoh yang dianggap berjasa dan bawa kemajuan buat masyarakat Ternate. “Kaicil” itu artinya anak raja atau pangeran, sementara “Kastela” itu nama Benteng Kastela, simbol sejarah dan kekuatan Kesultanan Ternate. Jadi, gelar ini punya makna penghormatan dan harapan supaya yang dapat gelar bisa nerusin perjuangan dan bawa kemakmuran buat masyarakat Ternate.

“Gelar ini bukan cuma simbol doang, tapi juga tanggung jawab besar buat terus berkontribusi bagi kemajuan Ternate,” kata Sultan Ternate Hidayat Mudaffar Sjah, pas ngasih gelar ke Gibran. Beliau berharap, dengan gelar ini, Gibran bisa makin deket sama masyarakat Ternate dan ngerti aspirasi mereka.

Rangkaian Acara Penyambutan Gibran, Ngapain Aja?

Pemberian gelar “Kaicil Kastela” ke Gibran ini bagian dari serangkaian acara penyambutan yang diadain sama Kesultanan Ternate. Selain ditandu dan kakinya dibasuh, Gibran juga disambut sama tarian Soya-Soya, tarian kepahlawanan yang nunjukkin penghormatan buat tamu agung. Terus, ada juga ritual Joko Kaha atau upacara “injak tanah”, yang jadi simbol penerimaan Gibran secara resmi sama masyarakat Kesultanan.

Rangkaian acara ini nunjukkin betapa pentingnya adat dan budaya dalam kehidupan masyarakat Ternate. Kesultanan Ternate, sebagai salah satu kerajaan tertua di Indonesia, terus berusaha ngelestariin tradisi dan budaya leluhur mereka di tengah jaman yang makin modern. Dari catatan sejarah, Kesultanan Ternate punya peran penting dalam perdagangan rempah-rempah jaman dulu dan jadi pusat peradaban di wilayah timur Indonesia.

Terlepas dari pro dan kontra di media sosial, pemberian gelar adat ke Gibran ini nunjukkin betapa beragamnya budaya Indonesia dan pentingnya ngehargai setiap tradisi yang ada. Tapi, tetep aja, seorang pejabat publik juga punya tanggung jawab buat jaga citra dan hindari tindakan yang bisa bikin kontroversi. Semoga kejadian ini bisa jadi pelajaran buat semua pihak biar lebih bijak dalam menyikapi perbedaan pandangan dan menghormati keberagaman budaya di Indonesia. Sampai berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari pihak Gibran soal kontroversi yang beredar. Masyarakat masih nunggu penjelasan lebih lanjut soal makna dan tujuan dari prosesi adat yang dilakuin. ***

About dion

Hands-on langsung. Nggak cukup liat brosur, gue harus nyoba sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *